1. Bismillaahirrahmannirrahiim (Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)
Setiap akan melakukan kegiatan apakah itu suatu tindakan, ucapan atau berupa pikiran, bahkan niat, seharusnya dilakukan dengan sadar/conscious/khusyu dan bermakna, serta dilakukan demi dan bersama Allah-Dzat Penggerak Semua Tindakan Manusia dan Alam Semesta. Spirit Basmalah membimbing pelaku untuk terhindar dari subyektifitas minded, harusnya : all for Allah, with Allah, because of Allah.
Kadang-kadang kita bertindak secara refleks (tidak disadari) pada kegiatan yang sifatnya rutin. Apabila dikerjakan dengan refleks, tindakan tersebut akan kurang terarah dan memiliki value yang kurang bermakna (meaningless) sehingga hasilnya kurang maksimal, misalnya kurang menjadikan kita pribadi yang positif yang seharusnya bisa didapatkan apabila tindakan tersebut dilakukan secara sadar/khusyu atau kita kurang menampilkan reaksi/respon yang positif. Kegiatan yang dilakukan dengan sadar akan membentuk habit/kebiasaan yang significant yang pada akhirnya akan memunculkan karakter yang diharapkan oleh pelaku. Biasanya karakter yang diharapkan itu bersifat positif, karena manusia mempunyai kecenderungan positif (fitrah manusia adalah positif) untuk melakukan tindakan dengan tujuan positif. Setelah sepenuhnya diserahkan pada Allah, hasilnya pasti baik, karena Allah Rahman + Rohim tidak akan menganiaya hamba-Nya.
Bismillaahirrahmannirrahiim ® tindakan yang disadari ® apabila tindakan ini diulang-ulang ® habit ® karakter positif |
Basmalah : Bukan sekedar memberikan arah tapi membingkai tiap perilaku (hati, gerak) agar tidak keluar koridor.
2. Alhamdulillahi Rabbil ‘aalamiin (Segala puji bagi Allah,Tuhan seluruh alam)
Kita harus bersyukur pada setiap kegiatan yang dilakukan beserta hasilnya apapun itu. Kalau kita selalu besyukur terhadap segalanya, maka otak kita akan terbiasa berpola pikir positif (positive thinking). Sehingga apabila mendapatkan hasil yang tidak sesuai harapan, kita masih berpikir bahwa hal tersebut pasti ada maknanya. Hal ini membuat kita berespon introspeksi apabila menghadapi ‘kegagalan’, dan bukan berespon kecewa, putus asa dan atau menyalahkan eksternal (orang lain, peristiwa, lingkungan, nasib, dll). Dengan introspeksi/tafakur membuat segala sesuatu menjadi lebih baik, dan apabila kita mengulang prosesnya dengan masih merasa bersyukur (karena masih diberi kesempatan mengulangnya), maka peluang hasilnya akan lebih baik dari sebelumnya. (Al-Quran : 17 = 83-84; 41 = 49-54; 70 = 19-21)
Jika kita selalu bersyukur maka keyakinan (iman kepada Allah) akan meningkat menjadi sejuta % (sangat sangat yakin) bahwa rencana dan pemberiaan Allah kepada kita pasti baik, yang pada akhirnya membuat kita selalu bisa melihat sisi positif dari hasil yang kita dapatkan. Karena KEBERHASILAN yang sesungguhnya adalah apabila kita sudah mengambil ACTION, melakukan upaya dengan proses yang positif. Adapun hasil akhirnya SEPENUHNYA kita serahkan pada ALLAH, karena pemberian hasil akhir merupakan ‘job description/tugas’ Allah, sedangkan job description/tugas manusia melakukan action/-tindakan/upaya dengan proses positif, that’s all.. Proses yang Positif adalah : tidak melanggar peraturan, tidak merugikan orang lain/eksternal, jujur, bertanggung jawab (yaitu dengan selalu mengadakan perbaikan dan pengembangan pada kompetensi kita, bersyukur, ikhlas, sabar).
Apapun hasil yang didapat semua karena Allah, bukan kehebatan kita, maka yang berhak dipuji adalah Allah, kita hanya pelaku yang beraktifitas karena perkenan-Nya. (Al-Quran : 27 = 40 {kisah Sulaiman}; 57 = 29; 62 = 10)
Mengucapkan Alhamdulillah (bersyukur) ® yakin pada rencana Allah ® positif thinking ® ikhlas menerima hasil |
Alur di atas membuat manusia terhindar dari rasa kecewa, marah, putus asa atas hasil yang tidak sesuai dengan yang diharapkan (kegagalan, kekacauan). Karena sekali lagi HASIL AKHIR adalah yang menentukan/tugas Allah, bukan manusia. Dan apapun pemberian Allah adalah pasti baik, bila kita mau introspeksi dan tidak buru-buru menyalahkan eksternal atau nasib. Jadi tugas manusia hanyalah berusaha dengan proses yang positif, tidak perlu pusing-pusing memikirkan hasil akhir. Simple-kan hidup ini…. jika kita mau sering bersyukur pada saat suka maupun duka. Rasa syukur yang kita ucapkan itulah yang membawa kita sampai pada kondisi ikhlas/ridho. (percaya aja deh). Apabila manusia sudah sampai pada level IKHLAS, ….Congratulations… anda akan merasa hidup ini indah, tidak ada beban.
3. Ar Rahmaanir Rahiim (Tuhan Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)
Sesuai dengan sifat Allah yang serba dan maha baik, maka kita harus yakin bahwa Allah telah memberi karunia, rezeki, anugrah yang tidak terbatas untuk kita sepanjang hidup, sehingga dalam diri kita secara jiwa dan raga berisi rahmat yang melimpah. Oleh karenanya kita harus menyalurkan kembali (mentransfer) sifat-sifat yang positif ke alam semesta termasuk kepada manusia lain. Jika kita melakukan hal-hal yang baik kepada lingkungan, sifat-sifat positif kita akan terasah dan meningkat. Tetapi sebaliknya jika tidak melakukan hal-hal yang baik maka sifat positif kita akan terkikis (Al-Quran : 18 = 29-31; 39 = 10). Pada ayat 1, kita tahu bahwa manusia kodratnya adalah baik, sebagaimana sifat-sifat Allah yang diberikan kepada manusia. Jadi manusia seharusnya menampilkan niat dan perilaku yang baik. Tapi kenapa ya.. (jika memang kodrat manusia baik) pada kenyataannya di dunia ini ada manusia baik dan ada yang jahat? Nah, loo.. apa dan siapa yang salah neh.. Jika kita mengklaim bahwa kita adalah manusia yang berdaya diri, berarti kita harus berani mengambil tanggung jawab atas tindakan/perbuatan kita, alias mau mengakui bahwa diri kitalah yang berperan sehingga menjadi pribadi yang negatif, bukan karena nasib atau perilaku orang disekitar kita (Al-Quran : 4 = 79). Its OK jika dalam perjalanan hidup, kita agak melenceng, (manusia tidak ada yang sempurna). Yang terpenting kita harus cepat menyadari kekeliruan kita dan kembali ke jalan yang lurus (perilaku baik) (Al-Quran : 3 = 133-136). Nah, pertanyaan muncul, “bagaimana caranya kita tahu bahwa bahwa jalan kita telah melenceng”. Misal : jika sebuah handphone, tidak berfungsi, maka ikon baterainya akan berkedip-kedip memberi signal bahwa ada yang tidak beres pada baterainya, mungkin low bat. Nah.. kalau pada manusia, signal apa yang akan kita rasakan sehingga kita tahu bahwa tindakan yang kita lakukan tidak sesuai dengan kodrat kita. Dalam diri manusia ada perangkat/fitur yang disebut HATI NURANI, nah.. hati nuranilah (suara hati/conscience) yang akan memberi signal, jika kita melakukan kesalahan. Hati nurani bertugas untuk membimbing manusia agar melakukan hal yang benar dan baik [Kebajikan itu adalah budi pekerti yang baik, dosa adalah segala yang menggelisahkan hatimu dan kau tidak suka jika dilihat orang (H.R. Muslim). Bertanyalah pada hatimu, kebajikan adalah apa yang membuat tenang jiwa, hati, sedangkan dosa adalah apa yang menggelisahkan jiwa dan menimbulkan keraguan dalam hati, meskipun orang terus membenarkanmu (Ahmad)]. Jadi orang yang berjalan melenceng alias negatif, itu karena dia tidak mendengarkan atau tidak menghiraukan suara hatinya. Padahal suara hatinya sudah memberi signal, …hey man what you did its wrong !!!. Jadi ini bukan salah Tuhan, kan.., karena manusia sudah dibekali fitur pembimbing (hati nurani) tapi tidak dipakai. Untuk menjaga suara hati kita tetap jernih dan tidak kotor, maka perawatannya (maintenance) adalah dengan sering-sering melakukan hal-hal positif. Seperti kata pepatah : What you get is what you give. Jika kita memberikan energi yang positif (perbuatan baik) kepada alam semesta, maka detik itu juga kita akan mendapatkan energi yang positif dari alam semesta. Tabungan energi positif inilah yang membuat suara hati kita tetap jernih, sehingga kita akan jelas mendengar peringatannya. Sebaliknya jika kita lebih banyak berbuat yang negatif, maka kita akan mendapatkan energi yang negatif dari alam. Kumpulan energi negatif di dalam diri kitalah yang mengotori atau menutupi hati nuarani kita, sehingga suara hati (hati nurani) kita lemah atau tidak terdengar, sehingga kita terus berjalan melenceng. Jadi jelaslah bahwa yang membuat orang itu jadi negatif adalah ulahnya sendiri. Jadi kembali pada ayat 3: Ar Rahmaanir Rohiim, marilah kita menampilkan sifat pengasih, mulia, adil, bijaksana, jujur, menghargai orang lain, bertanggung jawab, introspeksi, dll. yang sifatnya positif. Dimana perilaku positif akan membawa kebaikan bagi diri sendiri, orang lain dan alam semesta, baik pada kehidupan dunia dan akhirat, amin .
4. Maaliki yaumiddiin (Yang memiliki hari pembalasan) [Al-Quran : 40 = 16; 25 = 26; 13 = 16]
Bila Allah menguasai hari pembalasan (hari kemudian/future), berarti juga menguasai hari kemarin/past, dan hari ini/present. Artinya seluruh periode masa dimiliki oleh Allah. ‘Memiliki’ mengandung arti menciptakan, mengendalikan, mengatur, menjaga, mengevaluasi seluruh kejadian di alam semesta. Ayat ke 4 ini memberikan makna kepada manusia bahwa semua perilaku, niat, pemikiran kita akan dilihat oleh Allah dan kita akan memperoleh nilainya pada hari yang ditentukan. Jadi banyak-banyaklah melakukan perbuatan baik/amalan, selama kita ada di dunia. Dan berbuat baik itu adalah mudah karena kodrat/platform kita adalah baik, jadi kita tinggal mengembangkan berdasarkan cetakan yg sudah ada. Untuk kita dapat selalu berbuat baik, maka fungsikanlah fitur/potensi yang ada dalam diri kita. Salah satunya fitur hati nurani yang telah kita bahas (Al-Quran : 30 = 30). Kemudian ada fitur Akal. Akal berfungsi untuk membedakan yang logis dangan tidak logis (hati nurani untuk membedakan benar dan salah). Untuk dapat survive dalam hidup ini, kita harus memilih sesuatu yang logis atau realistis (Al-Quran : 22 = 46). Karena jika memilih sesuatu yang tidak logis/tidak realistis, maka akan banyak masalah dan kendala. Jadi gunakan akal kita agar kita dapat survive bukan saja dari hidup dan mati, tetapi survive dalam berinteraksi dengan manusia, peristiwa dan alam semesta secara harmonis (win win solution). Fitur yang lain adalah The Freedom of Will/kebebasan berkehendak atau memilih. Manusia bisa memilih yang baik atau memilih yang buruk. Walaupun manusia mempunyai kebebasan memilih, namun diharapkan kita memilih sesuatu yang benar (Al-Quran : 2 = 256). Dan pilihan yang benar dapat dimungkinkan bila memakai akal dan hati nurani, sehingga pilihan yang diambil realistis/logis dan benar. Dan beprilaku sesuai hukum alam, salah satunya what you get is what you give, dimana hukum alam ini akan memotivasi kita sering berbuat baik. Serta jika kita melakukan suatu action hendaknya berproses secara positif. Sehingga dengan melakukan hal-hal tersebut diatas, maka insya Allah nilai/raport kita akan cenderung positif. Amin.
Satu hal lagi, ayat 4 di atas juga mengandung arti bahwa Allah menciptakan, mengatur dan menjaga seluruh alam semesta, termasuk manusia. Ayat di atas mengingatkan manusia untuk mau mengambil peran (melibatkan diri : step in) dalam peristiwa/kejadian yang dihadapi, sehingga akan membawa kebaikan bagi kita semua secara win-win solution. Kita tidak perlu takut/kuatir bagaimana respon balik/apa yang terjadi bila kita melibatkan diri untuk turut menyelesaikan suatu issue/masalah, karena ada Allah yang menjaga kita. Yang penting kita action secara positif, dan tetap menampilkan sikap yang positif apabila kita direspon negatif oleh lingkungan.
Jika seseorang sering tidak mau mengambil peran pada kesempatan-kesempatan yang diberikan oleh Allah (yang perwujudannya melalui berbagai macam peristiwa), berarti individu tersebut tidak yakin bahwa Allah akan menjaga kita.
Allah mengharapkan peran aktif seluruh manusia untuk turut menjaga keseimbangan dan keharmonisan alam semesta termasuk interaksi antar manusia dan interaksi manusia dengan lingkungannya (hewan, tumbuhan, gunung, laut, hutan, udara, bumi, dll.)
5. Iyyaaka na’budu wa iyyaakanasta’iin (Hanya Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan) [Al-Quran : 26 = 77-83; 11 = 63]
Ucapan kita di atas telah menjadi komitmen untuk kita laksanakan dalam menjalani kehidupan. Bila kita menghadapi suatu kesulitan, kita harusnya hanya meminta tolong kepada Alllah. Disini mengandung arti bahwa kita percaya sejuta % bahwa Allah akan memberikan jalan keluar yang terbaik, walaupun solusinya tidak sesuai harapan kita. Kita kadang merasa permohonan kita belum dijawab atau dikabulkan, padahal sebetulnya sudah dikabulkan namun karena tidak sesuai yang diharapkan, maka kita terlewat mengenali (overlooked) hal itu sebagai bantuan Allah. Tapi Allah kan Maha Tahu mana yang cocok bagi seorang manusia. Jadi harusnya kita bisa ikhlas dan conscious, sehingga kita tidak saja dapat menerima pemberian Allah, tapi juga merasa puas dan damai akan jawaban/solusi yang tersedia. Jika ikhlas dan conscious kita memiliki energi untuk dapat melihat hikmah/makna. Kalau kita tidak ikhlas, energi kita habis dipakai untuk menggerutu sehingga gagal melihat sisi positifnya. Aneh bukan, jika kita sudah berkomitmen meminta pertolongan hanya dari Allah (yang artinya juga percaya akan bantuan-Nya), tapi kita masih kurang puas akan pemberian-Nya. Kalimat diatas juga mengartikan bahwa apabila kita dalam kesulitan, kita harus mengembalikan kesulitan kita ke tangan Tuhan, setelah kita berusaha mengatasi kesulitan tersebut dengan cara positif dan maksimal. Jika kita melakukan hal itu, kita terhindar dari rasa stress. Ayat 4 diartikan bahwa Allah menciptakan semua peristiwa baik yang positif maupun negatif dalam segala masa (masa lalu, sekarang, kemudian). Jadi kesulitan kita berasal dari Allah yang bertujuan untuk menguji mahluknya apakah bisa dinaikkan derajat kesulitan (seperti naik kelas). Manusia yang bisa naik kelas apabila ia mnjalani ujian dengan usaha yang positif, bersyukur, ikhlas, sabar, tawadlu serta memohon bantuannya (Al-Quran : 67 = 1-2). (Tidaklah seorang muslim mendapat musibah, sakit, dll. kecuali Allah menghapuskan kesalahannya seperti pohon menggugurkan daun-daunnya [Bukhori & Muslim]). JADI YANG DILIHAT BUKAN HASILNYA, TAPI BAGAIMANA IA MENJALANI UJIAN TERSEBUT. Jadi yang namanya kesulitan, kegagalan, masalah, penderitaan adalah mengandung implikasi positif (yang selama ini dikonotasikan suatu hal negatif oleh manusia) karena menjadi tanda bahwa kita mau dipersiapkan naik kelas, alias ditingkatkan/ditinggikan derajat/kualitas kita sebagai manusia. Makanya kita harus bersyukur apabila menghadapi kesulitan, bukannya menggerutu. Hidup ini sebenarnya mudah, artinya jika kita menemukan permasalahan yang tidak bisa kita atasi, maka kita kembalikan kepada Allah dengan memohon pertolongan dan ikhlas, jangan di-handle sendiri apabila sudah tidak sanggup. Jika kita masih stress karena mendapat masalah berarti kita kurang peraya pada kemampuan (Keagungan, Kemulian, Kasih Sayang) Allah. Bahaya nih. Jadi keyakinan/keimanan kita harus sama dengan apa yang kita ucapkan. Kalau kita mengucap bhwa kita hanya menyembah dan memohon pertolongan Allah, berati kita memuliakan Allah, hal ini membuat kita optimis/yakin bahwa ada solusi dari setiap permasalahan (Al-Quran : 65 = 2-3).
6. Ihdinash shirathal mustaqiim (Tunjukanlah kami jalan yang lurus)
Kita meminta agar diberikan kebaikan hidup di dunia dan di akhirat. Seyogyanya selain berdoa, kita juga mempunyai tanggung jawab pada diri agar kehidupan kita berada pada jalan yang benar. Jadi jangan hanya sampai berdoa saja, tetapi berusaha untuk bisa mengendalikan diri agar tidak berbuat negatif serta rajin untuk melakukan hal-hal yg baik. Apabila kita mengucapkan/berdoa spt ayat 6, maka mengandung konsekuensi untuk memiliki niat, berpikir, berucap dan berbuat yang baik. Dan berbuat baik itu mudah karena pada dasarnya/cetakannya manusia itu baik. Jadi tidak ada istilah tidak bisa/sulit berbuat baik, tapi lebih pada adakah KEMAUAN KITA untuk berbuat baik. Kebanyakan manusia menyalahkan faktor eksternal (hal-hal diluar dirinya, mis : orang lain, kejadian, peraturan, nasib, dll.), termasuk menyalahkan syaitan ketika dia melakukan hal yang negatif. Orang yang selalu mengkambinghitamkan eksternal berati termasuk individu yang kurang berdaya diri, lemah, tidak bertanggung jawab dan melempar kesalahan. Padahal manusia adalah makhluk yang memiliki fitur/perangkat yang canggih, dimana salah satunya fitur untuk melawan godaan. Apalagi Allah berfirman agar manusia tidak boleh terhasut oleh syaitan, itu artinya Allah tahu bahwa manusia sebetulnya mampu mengalahkannya karena memang Allah telah membekali manusia dengan potensi tersebut (Al-Quran : 15 = 32-42; 7 = 12-18; 144 = 1-5). Hasutan syaitan saja bisa dikalahkan oleh kita, apalagi hanya godaan sesama manusia (syaitan memiliki 1000X kemampuan dari manusia untuk bisa menggoda manusia). Sehingga sebetulnya tidak beralasan jika kita meyalahkan orang lain karena telah mempengaruhi kita untuk berbuat negatif. Pertanyaan adalah “kenapa kita mau dihasut”. Berarti kita MEMILIH untuk dipengaruhi/dihasut. Fitur The Fredoom of Will kita tidak kita fungsikan atau kita tidak tepat dalam megaktifkan fitur tersebut. Jadi apapun tindakan/keputusan yg kita ambil, merupakan tanggung jawab kita dalam melakukan pilihan, bukan karena peran orang lain/lingkungan. Inilah ciri orang yang Berdaya Diri (empowered), selalu mengambil tanggung jawab atas perbuatannya dan tidak menyalahkan orang/pihak lain. Jadi ucapan ayat 6 itu mengartikan bahwa manusia juga punya tanggung jawab dan berperan aktif agar bisa shiraathal mustaqim, bukan hanya memohon/berdoa saja
.
7. Shiraathal ladziina an’amta ‘alaihim ghairil maghdhuubi ‘alaihim wa ladh dhaalliin (Yaitu jalan orang-orang yg engkau beri nikmat atas mereka, bukan jalan orang-orang yang dibenci dan juga bukan orang yg sesat)
Orang-orang yang diberi nikmat adalah golongan orang yang beriman, sholeh, suci dan memiliki hubungan dengan Allah dan dengan sesama manusia secara baik. Pada ayat 7 ini mengimplikasikan kita tidak hanya meminta agar menjadi golongan orang baik, tetapi merupakan kewajiban dan tanggung jawab kita untuk menjadi golongan tersebut. Dan menjadi orang baik tidaklah sulit, karena manusia pada dasarnya baik, memiliki sebagian sifat-sifat yang hampir sama dengan sifat Allah dimana sifat-sifat Ilahiah tersebut ditiupkan ke dalam roh manusia. Tidak sulit, karena juga kita telah dibekali fitur/potensi yang lengkap agar bisa selamat dunia akhirat. Untuk kita dapat mengenal potensi-potensi tersebut (lihat uraian di ayat 4, mengenal fitur dalam diri yaitu : akal, hati nurani, the freedom of will) kita harus banyak membaca agar memiliki pengetahuan dan wawasan yang luas, serta lebih sering merenung untuk introspeksi mengidentifikasi kesalahan yang kita buat. Selanjutnya mengadakan perbaikan dan pengembangan diri agar terus menerus berproses menjadi orang baik.
Sebaliknya bila kita memohon untuk tidak menjadi golongan orang-orang yang dibenci dan sesat, kita juga harus berperan aktif untuk tidak melakukan perbuatan buruk. Jika kita melakukan kesalahan maka kita harus minta ampun pada Allah, kemudian minta maaf pada orang yang kita zolimi serta melakukan sesuatu sebagai tanggung jawab kita atas kesalahan yang kita perbuat. Jadi selain berdoa untuk tidak masuk dalam kategori orang yang sesat, menzolimi atau dizolimi orang, seharusnya pula kita berupaya maksimal, mis : dengan pengendalian diri yang kuat, untuk tidak masuk dalam kategori orang yang dibenci dan orang yang sesat.
Jadi pada ayat 6 dan 7, Allah meminta tanggung jawab dan komitmen manusia untuk berusaha menjadi golongan orang yang diberi nikmat dan menjauhkan diri dari hal-hal yang sesat dan tidak baik, sebagaimana yang kita mohonkan. Disini jika melakukannya dengan proses/usaha yang positif, Insya Allah, Tuhan memberikan hasil yang baik. Menjadi golongan oang-orang yang diberi nikmat dan terhindar dari dosa, amin.
“Definisi manusia yang berdaya diri (empowered) : adalah yang dapat mengandalkan diri sendiri untuk dapat memenuhi kebutuhannya, dengan proses yang positif (lihat uraian di ayat 2) tanpa selalu tergantung pada orang lain/lingkungan”. |
Kesadaran/Consciousness : kondisi mental untuk menemukan makna dalam setiap peristiwa Misalnya : jika kita conscious dalam berdoa untuk meminta sesuatu, maka kita bisa melihat jawaban/solusi yang diberikan Allah, serta merasa puas dan bersyukur atas pemberian tersebut walaupun tidak sesuai dengan yang diminta, karena kita yakin bahwa pemberian Allah yang terbaik dan karena Allah mengetahui apa yang terbaik bagi kita. |